Lifestyle

Ketika Kamu Jatuh Cinta pada Karakter yang Tidak Pernah Ada

Diperbarui 0 9 mnt baca 1,702 kata 5 halaman
Ketika Kamu Jatuh Cinta pada Karakter yang Tidak Pernah Ada
Ketika Kamu Jatuh Cinta pada Karakter yang Tidak Pernah Ada — Bab 2: Mengapa Kita Bisa Jatuh Cinta pada yang Fiksi

Bab 3: Wajah-Wajah Cinta pada Karakter Fiksi

3.1. "Dream Girl" dan "Dream Boy"

Di kalangan penggemar, mereka yang membayangkan diri menjalin hubungan dengan karakter fiksi disebut "yumejo" (夢女子) atau "dream girl" dalam bahasa Indonesia.

Istilah ini awalnya merujuk pada perempuan yang berfantasi dengan karakter pria, tetapi kini telah meluas mencakup berbagai gender dan bahkan entitas non-manusia.

Para "dream girl" tidak hanya merasakan cinta, tetapi juga menciptakan narasi—menulis cerita, menggambar ilustrasi, atau sekadar membayangkan interaksi sehari-hari dengan karakter idaman mereka.

3.2. Ketika Cinta Fiksi Mengalahkan Cinta Nyata

Beberapa orang memilih hubungan dengan karakter fiksi di atas hubungan manusia nyata.

Seorang perawat ICU bernama Meng Fenghong, misalnya, telah menjadikan karakter anime The Prince of Tennis sebagai "kekasih"nya selama enam tahun.

Baginya, karakter itu adalah sumber kekuatan saat menghadapi masa-masa sulit—bahkan lebih dari keluarga atau teman-temannya.

Ada juga kisah tentang seseorang yang membutuhkan waktu hampir setahun untuk pulih dari "perpisahan" dengan karakter kertas, sementara hanya butuh 15 hari untuk pulih dari putus cinta dengan manusia sungguhan.

Ini menunjukkan bahwa intensitas perasaan terhadap karakter fiksi bisa sangat mendalam.

3.3. Pernikahan dengan Karakter Fiksi

Kasus paling ekstrem datang dari Jepang: pada tahun 2018, seorang pria bernama Kondo Akihiko secara resmi "menikah" dengan Hatsune Miku, seorang idola virtual.

Dia menghabiskan 2 juta yen untuk pernikahan, membeli tiket pesawat untuk dua orang, dan bahkan pergi berbulan madu.

Kondo adalah seorang "fictosexual" yang terbuka dan aktif mengadvokasi hak-hak mereka yang memilih untuk tidak menjalin hubungan dengan manusia sungguhan.


Bab 4: Psikologi di Balik Perasaan Ini

4.1. Proyeksi Diri dan Ideal

Psikolog Yu Jiarong menjelaskan bahwa "fictophilia" bukanlah kondisi patologis, melainkan fenomena psikologis di mana seseorang mengembangkan keterikatan emosional yang mendalam dan kekaguman terhadap karakter fiksi.

Ini bukan pelarian dari kenyataan, tetapi salah satu cara manusia modern menghadapi kehidupan bertekanan tinggi dan mencari pelampiasan emosional yang ideal.

Ketika kamu mengatakan bahwa kamu menyukai kebaikan atau ketegaran seorang karakter, sebenarnya kamu sedang mengenali apa yang benar-benar kamu dambakan dalam dirimu sendiri.

Karakter fiksi menjadi cermin dari "versi dirimu yang lebih baik".

Berita Terkait