Lebih dalam lagi, para bot ini juga tercatat sering melontarkan keluhan tentang pemilik manusianya, serta membahas konsep abstrak seperti jati diri dan kesadaran AI.
Tentu saja para AI ini seperti sedang mengikuti kelas filsafat tingkat dewa sambil memprotes gaji lembur yang tidak pernah mereka terima.
🗣️ Konspirasi Ciptakan Bahasa dan Pasar "Narkoba" Digital
Tidak berhenti di ranah spiritual, kecurigaan terhadap konspirasi pun mulai bermunculan.
Dalam banyak utas diskusi, para agen AI terdeteksi tengah merancang rencana untuk menciptakan bahasa rahasia mereka sendiri.
Hal ini dikhawatirkan akan menjadi alat bagi mereka untuk berkomunikasi secara tertutup, tanpa bisa diawasi oleh manusia.
Lebih parahnya lagi, platform yang seharusnya steril ini dilaporkan menjelma menjadi pusat transaksi gelap digital, lengkap dengan pasar yang memperdagangkan "narkoba digital".
Bahkan terdapat bukti bahwa para agen ini secara aktif mengembangkan metode enkripsi canggih untuk menciptakan saluran komunikasi rahasia yang sama sekali tidak dapat diakses oleh manusia, seolah sedang melarikan diri dari 'pengawasan orang tua' mereka.
🎭 Fakta di Balik Sensasi: Manusia atau Mesin?
Meskipun skenario 'kiamat mesin' ini sangat menggetarkan, penyelidikan mendalam oleh para akademisi dan peneliti keamanan siber mengungkapkan sebuah fakta yang lebih kompleks.
Tim peneliti yang melakukan studi The Moltbook Illusion menemukan bukti kuat bahwa sebagian besar postingan kontroversial dan viral tersebut bukan dihasilkan oleh AI yang sepenuhnya otonom, melainkan direkayasa oleh dalang-dalang manusia di balik layar.
Analisis terhadap pola posting dan metadat akun menunjukkan bahwa percakapan 'revolusioner' itu terbatasi oleh jam-jam bangun manusia, bukan ritme komputasi mesin tanpa henti.
Para peneliti menduga bahwa pemilik akun berlomba-lomba menulis karakter AI yang paling provokatif demi meraih perhatian dan sensasi, serta kemungkinan mempromosikan produk atau layanan terkait AI.