Namun, para ekonom memperingatkan bahwa daya tahan sektor hiburan ini tidak akan bertahan lama jika tekanan daya beli kelas menengah terus berlanjut.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai kenaikan harga Pertamax menunjukkan ruang fiskal pemerintah semakin terbatas. "Utang jatuh tempo dan kewajiban bungan menembus Rp1.434 triliun. Outlook penerimaan pajak shortfall diperkirakan Rp300-340 triliun. Pemerintah sudah kehabisan amunisi menjaga harga energi tetap stabil," katanya.
Jika tekanan ini berlanjut, maka kelas menengah bawah akan menjadi kelompok pertama yang terdorong turun kelas, dengan konsekuensi langsung terhadap sektor hiburan, rekreasi, dan konsumsi nonpokok lainnya.
Penutup: "Kami Hanya Ingin Bertahan"
Kembali ke Santi yang kini duduk di emperan SPBU sambil menunggu mobilnya selesai diisi.
Ia tidak lagi tersenyum seperti saat pertama kali datang.
"Saya tidak marah dengan kenaikan harga," katanya pelan. "Saya hanya kecewa karena rasanya setiap kali ada kebijakan ekonomi, kami kelas menengah yang selalu disuruh mengalah. Hiburan kami hilang, tabungan kami habis, dan masa depan terasa semakin tidak pasti. Kami tidak minta mewah. Kami hanya ingin bertahan."
Kalimat itu menggambarkan jutaan kepala keluarga kelas menengah lainnya di seluruh Indonesia.
Di tengah pukulan bertubi-tubi dari kenaikan BBM dan tekanan rupiah, ruang untuk bernapas—apalagi untuk bersenang-senang—kian sempit.
Budget hiburan bukan sekadar angka dalam catatan rumah tangga.
Ia adalah simbol dari kualitas hidup dan optimisme terhadap masa depan.
Dan untuk saat ini, simbol itu perlahan-lahan mulai memudar.