Pagi ini, Santi (33) seorang karyawan swasta di Jakarta sempat berdiri cukup lama di depan mesin kasir SPBU di kawasan Kuningan.
Ia tidak sedang mengantre.
Ia hanya terdiam membaca layar digital yang menampilkan angka Rp16.250 per liter untuk Pertamax—naik lebih dari Rp3.000 dari harga yang biasa ia bayarkan bulan lalu.
"Itu hanya satu sisi," katanya kepada wartawan sambil menunjukkan aplikasi mobile banking di ponselnya. "Di rumah, cicilan KPR bulan ini juga naik. Kami sudah putuskan tidak jadi beli tiket konser Taylor Swift dan membatalkan rencana liburan keluarga ke Bali akhir tahun. Budget hiburan kami hilang."
Kisah Santi adalah potret kecil dari badai besar yang kini menghantam kelas menengah Indonesia.
Dalam satu pekan, dua kabar buruk datang bertubi-tubi: Pertamax naik 32 persen dan rupiah terus merosot hingga nyaris menembus Rp18.200 per dolar AS.
Dampaknya bukan sekadar pengeluaran transportasi yang membengkak, tetapi seluruh struktur pengeluaran kelas menengah—termasuk porsi hiburan, rekreasi, hingga tabungan jangka panjang—mulai tergerus atau bahkan hilang sama sekali.
Dua Pukulan Beruntun dalam Satu Pekan
Pada Selasa (9/6/2026) malam, PT Pertamina Patra Niaga mengumumkan kenaikan harga BBM nonsubsidi yang berlaku mulai Rabu (10/6/2026).
Berdasarkan daftar harga terbaru, Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter, atau melonjak Rp3.950 per liter atau sekitar 32 persen.
Sementara Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyebut kenaikan ini merupakan hasil evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan harga pasar keekonomian.
Namun, kenaikan BBM ini datang di saat yang tidak tepat.
Hanya berselang beberapa jam sebelumnya, Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan kembali menaikkan suku bunga acuan di luar jadwal rapat.
Rapat Dewan Gubernur Mingguan BI pada 9 Juni 2026 memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen—langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak gejolak global akibat perang di Timur Tengah.
Keputusan BI ini adalah respons langsung terhadap tekanan luar biasa terhadap rupiah.
Nilai tukar rupiah sempat menyentuh kisaran Rp18.200-an per dolar AS pada awal pekan, level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Meskipun pada Rabu pagi rupiah sempat menguat 158 poin menjadi Rp17.900 per dolar AS, tekanan terhadap mata uang Garuda ini dinilai belum sepenuhnya mereda.
Dua Kali Lipat Beban Kelas Menengah
Kombinasi kenaikan harga BBM dan suku bunga ini menciptakan beban berlapis bagi rumah tangga kelas menengah.
Di satu sisi, biaya transportasi harian melonjak karena harga BBM naik.
Di sisi lain, bunga kredit—termasuk KPR, kredit kendaraan, hingga pinjaman multiguna—ikut membengkak karena suku bunga acuan naik.
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai kelas menengah kini menghadapi beban berlapis mulai dari cicilan kredit yang membengkak, ongkos transportasi yang meningkat, hingga biaya hidup yang terus naik di tengah pendapatan yang tidak bertambah signifikan.
Menurutnya, kelas menengah selama ini justru menjadi kelompok yang paling sering menanggung dampak kebijakan ekonomi ketika tekanan muncul.
"Ketika negara perlu menjaga rupiah, bunga dinaikkan. Ketika harga energi disesuaikan, pengguna BBM nonsubsidi yang mayoritas berasal dari kelas menengah langsung menanggung beban. Ketika bantuan sosial dibagikan, mereka sering dianggap terlalu mampu untuk dibantu. Tetapi ketika pajak, bunga kredit, tarif, dan harga energi naik, mereka selalu dianggap cukup kuat untuk menanggungnya," ucap Achmad dikutip dari keterangan yang diterima, Rabu (10/6).
Ia mengingatkan bahwa kelas menengah memiliki kontribusi besar terhadap konsumsi nasional.
Karena itu, pelemahan daya beli kelompok tersebut dapat berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. "Kelas menengah bukan sekadar kelompok pendapatan. Mereka adalah fondasi pasar domestik, pembayar pajak, penyerap kredit perbankan, pengguna transportasi, pembeli rumah, pembayar pendidikan, dan penggerak konsumsi. Jika kelas ini rapuh, ekonomi nasional akan kehilangan penyangga utamanya," katanya.
Budget Hiburan: Korban Pertama yang Terkorbankan
Dalam struktur pengeluaran rumah tangga kelas menengah, pos hiburan—termasuk makan di luar, rekreasi, konser, dan liburan—selalu menjadi sektor yang paling cepat dipangkas ketika terjadi tekanan ekonomi.
Para ekonom menyebut fenomena ini sebagai disposable income shrinkage: setelah memenuhi kebutuhan pokok, energi, dan cicilan, "uang sisa" untuk hiburan semakin tipis atau bahkan tidak ada sama sekali.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan bahwa ketika harga pangan dan energi naik, kelompok kelas menengah biasanya mulai mengurangi belanja nonpokok, menunda pembelian rumah dan kendaraan, menarik tabungan, hingga menambah utang konsumtif. "Ini terlihat dari perubahan pola belanja. Ketika kelas menengah turun kelas, porsi belanja makanan bisa naik dari sekitar 42 persen menjadi 56 persen atau bahkan 62 persen dari total pengeluaran," katanya.
Akibatnya, ruang belanja untuk pendidikan, kesehatan, rekreasi, tabungan, dan investasi menjadi semakin sempit.
Santi yang diwawancarai di awal berita ini mengaku sudah merasakan dampaknya. "Kami sudah hitung ulang anggaran bulanan. Pertamax naik, artinya biaya antar-jemput anak dan transportasi suami ke kantor bertambah sekitar Rp400 ribu per bulan. Cicilan rumah naik hampir Rp300 ribu setelah BI Rate naik. Total tambahan beban sekitar Rp700-800 ribu per bulan," katanya sambil membuka catatan keuangan di ponselnya.
"Tiket konser Taylor Swift untuk sekeluarga harganya Rp3,2 juta. Uang itu sekarang saya pakai untuk menutup kenaikan cicilan. Liburan ke Bali yang budget-nya Rp8 juta? Kami batalkan dulu, mungkin sampai tahun depan," tambahnya.
Migrasi Massal ke Pertalite: Antrean Panjang dan Kelangkaan
Kenaikan harga Pertamax yang mencapai 32 persen juga memicu perpindahan massal pengguna BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi.
Selisih harga antara Pertamax (Rp16.250) dan Pertalite (Rp10.000) yang melebar hingga Rp6.250 per liter membuat banyak pemilik kendaraan kelas menengah memilih beralih ke Pertalite demi menekan pengeluaran bulanan.
Dampaknya langsung terasa di sejumlah daerah.
Di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, antrean kendaraan didominasi oleh pemburu Pertalite pasca-kenaikan harga Pertamax yang melonjak menjadi Rp16.650 per liter di wilayah tersebut.
Sementara itu, stok BBM di Kabupaten Aceh Tenggara dilaporkan tidak stabil hingga menyebabkan kekosongan di beberapa titik SPBU.
Fenomena serupa juga terjadi di Kalimantan Selatan.
Stok Pertalite di SPBU Tibung Raya, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, kosong pada Rabu (10/6/2026) pagi.
Seorang petugas SPBU mengatakan bahwa stok Pertalite belum datang dan hanya tersedia Solar dan Pertamax yang harganya justru baru saja naik.
Tekanan yang Sudah Berlangsung Lama
Krisis daya beli kelas menengah sebenarnya bukan fenomena baru.
Data menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kelas menengah Indonesia turun dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024.
Angka itu kemudian kembali turun menjadi sekitar 46,7 juta orang pada 2025.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan nasib kelas menengah Indonesia pada 2026 berada dalam fase yang sangat rentan akibat tekanan biaya hidup yang terus meningkat di tengah stagnasi pendapatan rumah tangga. "Masalahnya bukan hanya pendapatan yang stagnan, tetapi biaya hidup yang naik lebih cepat daripada kemampuan rumah tangga menyesuaikan diri," ujarnya.
Ia menyoroti bahwa risiko penurunan kelas menengah pada 2026 masih cukup besar, terutama bagi kelompok masyarakat yang berada sedikit di atas garis rentan.
Kelompok ini dinilai memiliki tabungan tipis, pendapatan tetap, tetapi dibebani cicilan dan kebutuhan pokok yang terus meningkat.
Sektor Hiburan: Antara Daya Tahan dan Perubahan Perilaku
Menariknya, meski tekanan ekonomi semakin berat, industri hiburan di Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang cukup kuat.
Ketua Umum Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI), Dino Hamid, mengatakan bahwa di tengah tantangan ekonomi dan pelemahan nilai tukar rupiah, minat masyarakat untuk menghadiri konser musik dan festival terlihat tetap tinggi.
Dino menjelaskan hal ini sejalan dengan tren global yang dikenal sebagai experience economy atau ekonomi berbasis pengalaman.
Dalam tren ini, masyarakat cenderung mengalokasikan pengeluarannya untuk mendapatkan pengalaman yang berkesan dibandingkan membeli barang fisik. "Bisa jadi di tengah ekonomi yang sedang menantang hari ini, makin banyak masyarakat yang menjadikannya sebagai pelarian dengan datang ke konser," tambah Dino.
Namun, para ekonom memperingatkan bahwa daya tahan sektor hiburan ini tidak akan bertahan lama jika tekanan daya beli kelas menengah terus berlanjut.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai kenaikan harga Pertamax menunjukkan ruang fiskal pemerintah semakin terbatas. "Utang jatuh tempo dan kewajiban bungan menembus Rp1.434 triliun. Outlook penerimaan pajak shortfall diperkirakan Rp300-340 triliun. Pemerintah sudah kehabisan amunisi menjaga harga energi tetap stabil," katanya.
Jika tekanan ini berlanjut, maka kelas menengah bawah akan menjadi kelompok pertama yang terdorong turun kelas, dengan konsekuensi langsung terhadap sektor hiburan, rekreasi, dan konsumsi nonpokok lainnya.
Penutup: "Kami Hanya Ingin Bertahan"
Kembali ke Santi yang kini duduk di emperan SPBU sambil menunggu mobilnya selesai diisi.
Ia tidak lagi tersenyum seperti saat pertama kali datang.
"Saya tidak marah dengan kenaikan harga," katanya pelan. "Saya hanya kecewa karena rasanya setiap kali ada kebijakan ekonomi, kami kelas menengah yang selalu disuruh mengalah. Hiburan kami hilang, tabungan kami habis, dan masa depan terasa semakin tidak pasti. Kami tidak minta mewah. Kami hanya ingin bertahan."
Kalimat itu menggambarkan jutaan kepala keluarga kelas menengah lainnya di seluruh Indonesia.
Di tengah pukulan bertubi-tubi dari kenaikan BBM dan tekanan rupiah, ruang untuk bernapas—apalagi untuk bersenang-senang—kian sempit.
Budget hiburan bukan sekadar angka dalam catatan rumah tangga.
Ia adalah simbol dari kualitas hidup dan optimisme terhadap masa depan.
Dan untuk saat ini, simbol itu perlahan-lahan mulai memudar.