Pernyataan ini semakin menguatkan dugaan bahwa Polri telah menangkap orang yang salah.
Pakar Siber: WFT Hanya Peniru Bjorka
Keraguan tentang identitas WFT sebagai Bjorka yang sebenarnya bukan hanya datang dari Teguh Aprianto.
Chairman CISSReC (Communication & Information System Security Research Center), Pratama Persadha, juga menilai ada sejumlah indikasi kuat bahwa individu yang ditangkap bukanlah otak sebenarnya di balik serangkaian aksi peretasan Bjorka.
"Ada beberapa data dan fakta yang dapat dianalisis untuk memperkuat dugaan bahwa penangkapan seseorang yang disebut sebagai Bjorka kemungkinan adalah salah target," ungkap Pratama kepada Merdeka.com.
Menurut Pratama, dalam analisis keamanan siber, atribusi terhadap pelaku selalu mengacu pada tiga faktor utama: kapabilitas teknis, konsistensi pola aktivitas digital, dan bukti forensik.
"Jika salah satunya tidak sesuai, maka identifikasi pelaku patut dipertanyakan," katanya.
Profil teknis WFT yang ditangkap tidak sebanding dengan kemampuan yang ditunjukkan oleh Bjorka selama ini.
Hacker tersebut diketahui mampu membobol basis data skala besar, menjual data di forum gelap internasional, hingga konsisten berinteraksi dengan komunitas siber global.
WFT: Pengguna Nama Bjorka untuk Pemerasan
Teguh Aprianto menjelaskan bahwa akun @bjorkanesiaaa yang dimiliki WFT memiliki afiliasi dengan akun lain di platform DarkForums dengan nama pengguna Skywave.
"Dia memang suka memakai nickname orang lain, termasuk mengaku sebagai Bjorka," tutur Teguh.
Data-data hasil pembobolan yang diunggah oleh akun Skywave diduga bukan hasil kerja sendiri.
"Dia hanya mengunggah ulang data yang dibocorkan oleh akun bernama Black yang aktif di BreachForums," kata Teguh.
Wakil Direktur Reserse Siber Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Fian Yunus mengungkapkan, WFT memiliki banyak akun.
Selain akun @bjorkanesiaaa di platform X dan akun Skywave di DarkForums, pelaku sempat menggunakan username Shint Hunter hingga Opposite6890.