Pemerintah tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi dan penebalan bantuan sosial (bansos) sebagai langkah antisipasi untuk meredam dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax terhadap daya beli masyarakat.
Langkah ini diambil menyusul keputusan PT Pertamina (Persero) yang resmi menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter mulai Rabu, 10 Juni 2026.
Kenaikan harga Pertamax yang semula dibanderol Rp12.300 per liter atau naik sebesar Rp3.950 ini, turut diikuti oleh penyesuaian harga Pertamax Green 95 dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Meski demikian, pemerintah memastikan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap dipertahankan masing-masing di angka Rp10.000 per liter dan Rp6.800 per liter sebagai bentuk perlindungan bagi masyarakat luas.
Stimulus Ekonomi dan Bansos untuk Kelompok Rentan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa pemerintah sedang mematangkan berbagai opsi kebijakan untuk menjaga stabilitas daya beli masyarakat sekaligus mengantisipasi tekanan inflasi.
Rencana pemberian stimulus ini akan dilaporkan terlebih dahulu kepada Presiden Prabowo Subianto sebelum diumumkan secara resmi kepada publik.
“Ya pertama kan BBM yang kita pertahankan kan Pertalite dan B50 (biosolar).
Terus kemudian kita siapkan yang untuk kelas menengah ke bawah, desil 4 ke bawah,” ujar Airlangga usai Rapat Dewan Pengawas Danantara di Wisma Danantara, Jakarta, Senin (15/6/2026) malam.
Menurutnya, stimulus dan bansos tambahan yang disiapkan secara spesifik akan menyasar kelompok masyarakat pada desil 1 hingga 4, yaitu kategori masyarakat miskin ekstrem, miskin, hingga rentan miskin.
Kelompok ini dinilai paling membutuhkan dukungan di tengah meningkatnya tekanan ekonomi akibat kenaikan harga BBM.
Airlangga juga memberi sinyal adanya program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tengah dipersiapkan untuk kelompok masyarakat bawah.
Namun, ia menegaskan bahwa bantuan tersebut tidak akan diberikan kepada kelompok kelas menengah.
“Kalau BLT yang bukan yang di menengah tetapi yang di bawah,” tandasnya.
Stimulus Produktif untuk Kelas Menengah
Sementara itu, bagi kelompok kelas menengah yang posisinya berada di atas desil 4, pemerintah menyiapkan stimulus dalam bentuk program yang mendorong peningkatan kesempatan kerja dan pendapatan.
Salah satu program yang akan digenjot kembali adalah Program Magang Nasional yang rencananya dibuka pada Juli 2026.
“Kelas menengah salah satu program magang yang kita lagi dorong kembali di bulan Juli,” jelas Airlangga.
Melalui program ini, pemerintah berharap dapat memberikan jembatan bagi kelas menengah, terutama anak-anak muda dan pencari kerja, untuk meningkatkan keterampilan serta daya saing di pasar kerja.
Tekanan pada Kelas Menengah
Kebijakan ini menyoroti kondisi kelas menengah yang saat ini berada dalam posisi tertekan.
Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurrahman, menilai bahwa kelompok kelas menengah menghadapi tekanan yang tidak ringan.
Mereka umumnya tidak termasuk penerima bansos, tetapi harus menanggung berbagai kenaikan biaya hidup, termasuk transportasi, pangan, dan cicilan.
“Bagi pekerja komuter yang mengonsumsi 40-60 liter per bulan, pengeluaran tambahan dapat mencapai sekitar Rp158 ribu-Rp237 ribu per bulan,” ujar Rizal.
Tekanan ini diperparah dengan kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen yang membuat biaya kredit semakin mahal.
Kesimpulan
Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter merupakan konsekuensi dari dinamika ekonomi global dan penyesuaian harga pasar keekonomian.
Namun, langkah pemerintah mempertahankan harga Pertalite dan Biosolar, serta menyiapkan stimulus dan penebalan bansos untuk kelompok rentan, diharapkan dapat menjadi bantalan agar inflasi tidak melonjak terlalu tinggi dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
Sementara itu, kelompok kelas menengah diharapkan dapat memanfaatkan program-program produktif seperti Magang Nasional untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing di tengah tantangan ekonomi yang ada.
Kebijakan ini masih dalam proses penggodokan dan realisasinya di lapangan akan terus dipantau dalam beberapa minggu ke depan.