Berita

Heboh! Gaji PPPK Tendik Resmi APBN, Namun Aturan Pensiun Belum Terbit. Seskab Teddy Prioritaskan Perhatian

Diperbarui 0 6 mnt baca 1,083 kata 4 halaman
Heboh! Gaji PPPK Tendik Resmi APBN, Namun Aturan Pensiun Belum Terbit. Seskab Teddy Prioritaskan Perhatian
Heboh! Gaji PPPK Tendik Resmi APBN, Namun Aturan Pensiun Belum Terbit. Seskab Teddy Prioritaskan Perhatian — "Kami sudah s...

"Gagasan restorasi Kapolri bukan sekadar wacana. Ketika Kompolnas bisa mengawasi secara horizontal, maka perbaikan dari hulu hingga hilir akan terwujud. Polri ke depan diharapkan tidak hanya profesional, tetapi juga adaptif terhadap dinamika masyarakat sipil," jelas Boni.

Meski mengapresiasi, Boni mengingatkan bahwa tantangan terbesar adalah implementasi.

Ia berharap Presiden segera mengisi kursi Kompolnas dengan figur-figur yang independen dan berani.

Tergiur Iklan Medsos, Pemuda Asal Garut Jadi Korban Penipuan Loker ABK di Muara Angke

Jakarta – Mimpi DS (24) untuk mengarungi lautan dan memperbaiki ekonomi keluarga kandas sebelum kapal itu berlayar.

Pemuda asal Garut itu justru terdampar di kursi panas kantor Polsek Kawasan Sunda Kelapa, melaporkan sosok-sosok yang menjanjikannya pekerjaan sebagai Anak Buah Kapal (ABK) kapal cumi-cumi.

Semua bermula dari sebuah iklan instagram yang begitu meyakinkan.

Gaji besar, akomodasi lengkap, tanpa biaya pendaftaran.

DS yang hanya bermodal semangat langsung menghubungi nomor yang tertera.

Ia dijemput di Garut dan dibawa ke sebuah penampungan di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara.

Namun, begitu tiba, ceritanya berubah.

DS tidak disuruh berlayar, melainkan dijejali surat perjanjian hutang. "Ada biaya kasbon, perlengkapan, dan administrasi yang harus dibayar. Totalnya jutaan. Saya tidak punya uang, mereka bilang nanti dipotong dari gaji bulan pertama," cerita DS menirukan perkataan pelaku.

Kecurigaan DS memuncak ketika ia bertemu calon ABK lain yang sudah berbulan-bulan hanya di penampungan tanpa keberangkatan.

Ia pun kabur dan melapor ke Polsek Sunda Kelapa.

Kanit Reskrim Polsek Kawasan Sunda Kelapa, Iptu Indra Basuki, membenarkan adanya laporan tersebut. "Modusnya sudah seperti sindikat. Iklan di medsial, jemput korban, lalu jerat dengan biaya-biaya fiktif. Kami sudah kantongi beberapa nama pelaku," ujar Indra saat konferensi pers, Minggu (14/6/2026).

Berita Terkait