Bagian yashti (puncak) belum ditemukan pada semua stupa yang ada.
Misteri di Balik Ketidaklengkapan
Salah satu aspek paling misterius dari temuan ini terletak pada kondisi beberapa bagian stupa yang tampak belum selesai dikerjakan.
Wardiyah, Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah, mengungkapkan temuan penting saat melakukan pemeriksaan langsung pada Jumat (29/5/2026).
"Cuma sepertinya kalau kita lihat di bagian Harmikanya itu belum selesai. Unfinished, jadi baru sebagian sudah ditata, sudah dipahat,"
imbuh Wardiyah.
Kondisi "belum selesai" pada bagian harmika stupa inilah yang memicu spekulasi menarik.
Para arkeolog dan pemerhati budaya menduga bahwa temuan ini kemungkinan merupakan bagian dari bengkel kerja (workshop) pembuatan candi di masa lampau.
Kemungkinan lain, stupa-stupa ini merupakan bagian dari bangunan candi yang terhenti pembangunannya karena suatu sebab.
Temuan ini juga menguatkan dugaan bahwa Desa Nepen pada masa lalu merupakan kawasan pemukiman yang mendukung aktivitas keagamaan dan pembangunan keagamaan Hindu-Buddha.
Keberadaan lebih dari lima stupa dalam satu kawasan yang relatif sempit mengindikasikan bahwa wilayah ini bukan sekadar lokasi peribadatan biasa, melainkan pusat kegiatan keagamaan yang cukup signifikan.
Perkiraan Usia: Abad 8 hingga 10 Masehi
Berdasarkan penelusuran awal, BP Kebudayaan Jawa Tengah memperkirakan bahwa stupa-stupa ini berasal dari periode klasik Hindu-Buddha, sekitar abad ke-8 hingga ke-10 Masehi.
Perkiraan ini didasarkan pada analisis gaya arsitektur, ornamen, dan teknik pemahatan yang digunakan.
"Kalau dari kemungkinan daerah sini ya kita bisa perkirakan periode klasik Hindu-Buddha. Dan itu jelas latar belakangnya agama Buddha,"
tegas Wardiyah.
Meskipun demikian, BP Kebudayaan mengakui bahwa menentukan angka pasti usia dari temuan ini sangat sulit dilakukan, karena belum ditemukannya bukti tulisan (prasasti) yang dapat memberikan petunjuk kronologis yang lebih akurat.
Ragam Hias yang Istimewa
Yang menarik, ragam hias pada stupa temuan di Nepen ini disebut memiliki tingkat estetika yang lebih tinggi dibandingkan temuan serupa di daerah lain.
Pada bagian andah (bagian lonceng), ditemukan hiasan sabuk bermotif sulur-suluran.
Sementara pada bagian harmika, ditemukan hiasan antefik yang sebagian sudah dihiasi ragam sulur-suluran flora.