BOYOLALI – Sebuah penemuan arkeologis yang mengundang pertanyaan besar mengemuka di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah Temuan ini langsung menarik perhatian Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah untuk turun tangan melakukan peninjauan
BOYOLALI – Sebuah penemuan arkeologis yang mengundang pertanyaan besar mengemuka di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Warga Desa Nepen, Kecamatan Teras, menemukan sebuah stupa batu berukuran besar yang diduga kuat merupakan peninggalan periode klasik Hindu-Buddha.
Temuan ini langsung menarik perhatian Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah untuk turun tangan melakukan peninjauan.
Yang membuat temuan ini misterius, selain ukurannya yang cukup besar, adalah dugaan bahwa stupa tersebut mungkin bukan bagian dari candi yang sudah berdiri, melainkan berasal dari bengkel kerja (workshop) pembuatan candi di masa lalu.
Kemungkinan lain, stupa ini bisa jadi merupakan bagian dari struktur candi yang belum selesai dibangun.
Kronologi Penemuan
Benda bersejarah itu pertama kali ditemukan oleh seorang warga bernama Sopan Prasetyo di pekarangan rumahnya, tepatnya saat ia sedang membuka akses jalan menuju kandang sapi miliknya pada Kamis (14/5/2026) sekitar pukul 11.00 WIB.
Tak hanya satu, Sopan menemukan benda yang diduga cagar budaya (ODCB) di beberapa titik.
Total hingga saat ini, tim BP Kebudayaan Jateng telah mendata lima objek serupa yang tersebar di empat lokasi berbeda di Desa Nepen.
Lokasi-lokasi tersebut meliputi pekarangan rumah Sopan, kebun pekarangan warga, area pemakaman umum, hingga lokasi objek wisata air setempat.
Dimensi dan Bentuk Fisik Stupa
Stupa yang ditemukan di pekarangan Sopan memiliki dimensi yang cukup mengesankan:
-
Tinggi: 1,25 meter
-
Diameter: 1,30 meter
Sementara itu, temuan lain berupa batu yang diduga prasada memiliki tinggi 20 sentimeter dengan diameter 1,8 meter.
Stupa yang ditemukan memiliki bagian-bagian yang utuh, terdiri atas:
-
Prasada – bagian dasar
-
Andah – bagian tengah yang berbentuk mirip lonceng
-
Harmika – bagian atas berbentuk kotak
-
Yashti – bagian puncak berbentuk tiang
Namun demikian, tidak semua stupa yang ditemukan memiliki bagian yang lengkap.
Dari lima temuan, hanya dua stupa yang ditemukan utuh mulai dari prasada, andah, hingga harmika.
Bagian yashti (puncak) belum ditemukan pada semua stupa yang ada.
Misteri di Balik Ketidaklengkapan
Salah satu aspek paling misterius dari temuan ini terletak pada kondisi beberapa bagian stupa yang tampak belum selesai dikerjakan.
Wardiyah, Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah, mengungkapkan temuan penting saat melakukan pemeriksaan langsung pada Jumat (29/5/2026).
"Cuma sepertinya kalau kita lihat di bagian Harmikanya itu belum selesai. Unfinished, jadi baru sebagian sudah ditata, sudah dipahat,"
imbuh Wardiyah.
Kondisi "belum selesai" pada bagian harmika stupa inilah yang memicu spekulasi menarik.
Para arkeolog dan pemerhati budaya menduga bahwa temuan ini kemungkinan merupakan bagian dari bengkel kerja (workshop) pembuatan candi di masa lampau.
Kemungkinan lain, stupa-stupa ini merupakan bagian dari bangunan candi yang terhenti pembangunannya karena suatu sebab.
Temuan ini juga menguatkan dugaan bahwa Desa Nepen pada masa lalu merupakan kawasan pemukiman yang mendukung aktivitas keagamaan dan pembangunan keagamaan Hindu-Buddha.
Keberadaan lebih dari lima stupa dalam satu kawasan yang relatif sempit mengindikasikan bahwa wilayah ini bukan sekadar lokasi peribadatan biasa, melainkan pusat kegiatan keagamaan yang cukup signifikan.
Perkiraan Usia: Abad 8 hingga 10 Masehi
Berdasarkan penelusuran awal, BP Kebudayaan Jawa Tengah memperkirakan bahwa stupa-stupa ini berasal dari periode klasik Hindu-Buddha, sekitar abad ke-8 hingga ke-10 Masehi.
Perkiraan ini didasarkan pada analisis gaya arsitektur, ornamen, dan teknik pemahatan yang digunakan.
"Kalau dari kemungkinan daerah sini ya kita bisa perkirakan periode klasik Hindu-Buddha. Dan itu jelas latar belakangnya agama Buddha,"
tegas Wardiyah.
Meskipun demikian, BP Kebudayaan mengakui bahwa menentukan angka pasti usia dari temuan ini sangat sulit dilakukan, karena belum ditemukannya bukti tulisan (prasasti) yang dapat memberikan petunjuk kronologis yang lebih akurat.
Ragam Hias yang Istimewa
Yang menarik, ragam hias pada stupa temuan di Nepen ini disebut memiliki tingkat estetika yang lebih tinggi dibandingkan temuan serupa di daerah lain.
Pada bagian andah (bagian lonceng), ditemukan hiasan sabuk bermotif sulur-suluran.
Sementara pada bagian harmika, ditemukan hiasan antefik yang sebagian sudah dihiasi ragam sulur-suluran flora.
"Tapi sejauh ini kita belum menemukan yang agak luar biasa, belum. Tapi secara bentuk, secara estetika itu (temuan terakhir) memang paling bagus di antara 5,"
ujar Wardiyah.
Keindahan ragam hias ini menjadi indikasi bahwa pembuat stupa-stupa tersebut adalah pengrajin yang memiliki keterampilan tinggi, yang mendukung dugaan adanya workshop pembuatan elemen-elemen candi di kawasan tersebut.
Fungsi Stupa
Menurut penjelasan Wardiyah, stupa dalam tradisi Buddha memiliki fungsi sebagai tempat peribadatan.
Secara simbolis, stupa merepresentasikan beberapa benda penting:
"Stupa itu terdiri atas jubahnya, mangkoknya, tongkatnya juga. Perumpamaannya kita lihat prasada, andah, dan yashti,"
jelasnya kepada awak media di lokasi temuan.
Dengan ditemukannya lebih dari lima stupa dan prasada di Desa Nepen, BP Kebudayaan memperkirakan bahwa kawasan ini dahulunya merupakan pemukiman Hindu-Buddha dengan aktivitas keagamaan yang cukup intensif.
"Tapi apakah masyarakatnya seperti apa kita belum tahu ya. Pasti mereka diwarnai latar belakang agama juga. Dan berkembang di desanya dan kita menemukan hampir lima obyek,"
imbuh Wardiyah.
Harapan Warga: Museum Desa
Sopan Prasetyo, sang penemu, memiliki harapan besar terkait nasib benda-benda bersejarah yang ditemukan di pekarangan rumahnya.
Ia bersikeras bahwa temuan-temuan tersebut tidak boleh dibawa keluar dari Desa Nepen.
"Harapan saya nggak boleh dibawa keluar. Nanti sejarahnya hilang. Harapan saya dijadikan museum desa. Ayo kita rawat bareng biar sejarahnya di situ tidak hilang,"
kata Sopan saat dihubungi, Jumat (29/5/2026).
Untuk menjaga keamanan benda-benda bersejarah tersebut saat proses kajian masih berlangsung, lokasi temuan kini telah dipasangi garis polisi.
Imbauan untuk Warga
Wardiyah mengimbau seluruh warga Boyolali, terutama yang tinggal di Desa Nepen dan sekitarnya, untuk segera melapor apabila menemukan benda-benda yang diduga sebagai cagar budaya.
"Sebaiknya nanti ada warga karena ini sudah kita nyatakan kan daerah ini kaya (temuan ODCB). Kalau lagi melakukan kegiatan pengolahan tanah pertanian atau bangun rumah, segera laporkan,"
katanya.
Pelaporan dapat disampaikan ke Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah atau aparat setempat.
Status Penelitian Saat Ini
Hingga berita ini diturunkan, BP Kebudayaan Jawa Tengah masih melakukan pendataan dan pengkajian lebih dalam terhadap temuan ODCB ini.
Data yang terkumpul dari stupa dan prasada yang diperkirakan berasal dari abad ke-8 hingga ke-10 Masehi tersebut selanjutnya akan digunakan untuk penelitian lebih lanjut.
Beberapa hal yang masih memerlukan kajian lebih mendalam antara lain:
-
Apakah bagian-bagian stupa yang ditemukan merupakan satu kesatuan atau bukan – karena posisi temuan yang terpisah hingga 50 sentimeter.
-
Apa penyebab ketidaklengkapan pada bagian harmika – apakah karena proses pembuatan yang terhenti atau karena kerusakan akibat faktor alam dan waktu.
-
Bagaimana struktur asli dari kompleks percandian di kawasan ini, mengingat temuan yang tersebar di beberapa titik.
Dua Skenario yang Masih Diperdebatkan
Hingga saat ini, dua skenario utama masih menjadi perdebatan hangat di kalangan arkeolog dan pemerhati budaya:
-
Stupa sebagai bagian dari bangunan candi – Jika skenario ini yang terbukti benar, maka Desa Nepen menyimpan struktur candi Buddha yang cukup besar dengan kelengkapan ornamen yang sangat artistik.
-
Stupa sebagai produk workshop pembuatan candi – Skenario ini didasarkan pada adanya bagian stupa yang belum selesai (unfinished). Jika terbukti benar, ini akan menjadi temuan langka yang menunjukkan adanya industri pembuatan elemen-elemen candi di masa lampau, yang selama ini jarang terungkap dalam penelitian arkeologi di Indonesia.
Penutup
Penemuan stupa di Boyolali ini menjadi pengingat bahwa masih banyak misteri sejarah yang terkubur di bumi Nusantara, yang menunggu untuk diungkap.
Apakah stupa-stupa ini adalah bagian dari candi megah yang kini tinggal kenangan, ataukah jejak sebuah workshop pembuatan candi yang terhenti oleh waktu? Jawabannya masih harus menunggu proses penelitian yang tengah berlangsung.
Satu hal yang pasti, penemuan ini telah membuka babak baru dalam peta sejarah peradaban Hindu-Buddha di Jawa Tengah, khususnya di wilayah Boyolali yang selama ini mungkin kurang mendapat sorotan dalam percaturan arkeologi nasional.
BP Kebudayaan Jawa Tengah berjanji akan terus mengupdate perkembangan penelitian ini kepada publik.
Masyarakat yang ingin mengetahui informasi lebih lanjut dapat mengikuti kanal resmi Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah.
Pewarta: Tim Redaksi
Editor: Redaksi
Lokasi: Boyolali, Jawa Tengah
Tanggal: 30 Mei 2026