Presiden Prabowo mengaku kaget saat mengetahui jumlah BUMN yang sebenarnya mencapai lebih dari 1.000 perusahaan, jauh lebih banyak dari perkiraannya yang hanya sekitar 300.
"Waktu saya jadi presiden, saya baru tahu. Saya kira perusahaan BUMN itu jumlahnya 300. Waktu saya jadi presiden baru saya tahu jumlahnya 1.000 lebih," ujar Prabowo.
Untuk itu, pemerintah telah menutup sekitar 240 BUMN yang dinilai tidak sehat dan terus merugi.
Langkah ini tidak akan berhenti di situ.
Presiden Prabowo menargetkan akan menutup total 700 hingga 800 perusahaan negara yang dinilai tidak produktif dan menjadi beban keuangan negara.
Penutupan ini dinilai berhasil menghemat triliunan rupiah dari biaya operasional dan remunerasi manajemen yang tidak efisien.
"Sudah kita tutup, kita menghemat triliunan. Hanya dari nutup perusahaan-perusahaan yang nggak benar dan itu caranya para direksi itu nutupi korupsi mereka," jelas Presiden Prabowo.
Dengan berbagai upaya perbaikan yang dilakukan pemerintah, mulai dari penataan BUMN hingga pemberantasan kebocoran anggaran, diharapkan ke depan kesejahteraan guru dan seluruh aparatur negara dapat terus meningkat.
Sambil menunggu realisasi perbaikan tersebut, para guru diharapkan untuk terus memantau rekening masing-masing dan status SKTP melalui laman Info GTK.